Sejarah Kampung Gribig

 


Kampung GRIBIG atau Kampung SUKAREJA adalah kampung atau dusun  yang sekarang termasuk bagian dari wilayah adminstratif Desa Lempuyang Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat. Pada awalnya Kampung Gribig termasuk wilayah Desa Anjtan kemudian jadi bagian Desa Kopyah dan Sekarang jadi bagian Desa Lempuyang.

1. Asal muasal nama Gribig dan nama Sukareja

    Menurut Cerita yang disampaikan oleh salahsatu tokoh masyarakat Gribig Generasi Ketiga, nama GRIBIG muncul berawal dari peristiwa  Air Sungai yang selalu jebol, sehingga tanggul sungai (Sekarang Jalan Raya) tidak bisa dilewati, posisi yang jebol (kalau sekarang berada di sebelah timur jembatan Masjid Gribig, yang dulu ada saluran air rawa dari arah selatan mengarah ke utara atau welanjar, sekarang dah menjadi daratan)  yang ada di blok ini, tanah yang digunakan untuk membendung air selalu jebol, baru setelah diganti dengan Gribik (anyaman dari Bambu) tanggul sungai  tidak lagi jebol, maka kampung ini dinamakan kampung GRIBIG, adapun nama Sukareja sebenarnya muncul bersamaan dengan waktu pembangunan bendungan atau Tutupan, dengan dinisbatkan kepada Desa yang berada di Wilayah Subang yang mana desa tersebut merupakan desa asal Pak Mandor yang mengawasi pembangunan Tutupan, karena orang yang tidak kenal nama pak Mandor maka memanggilnya Sukareja (asal desa pak Mandor)

2. Gribig Periode Generasi Pertama

Diceritakan bahwa tokoh-tokoh yang babad Alas Gribig diantaranya adalah: Ki Ilyas, Ki Soleh, Ki Nawawi dan disusul Ki Anwar. Ki Ilyas dan Ki Anwar Menempati Gribig bagian Tengah, Ki Nawawi menempati Gribig Bagian Barat dan Ki Soleh menempati Gribig bagian Timur.

3. Gribig Periode Generasi  Ke Dua 

a) Kiyai Abdul Ghoni 

Latar belakang berdirinya langgar Kasepuhan 

Langgar Kasepuhan berdiri diinisiasi dan dilatarbelakangi Kiyai Abdul Ghoni waktu kecil sholat berjamaah bersama saudara - saudaranya diatas dipan ( amben ), namun dipan tersebut runtuh (jebrot/gropak) sehingga ABDUL GHONI kecil berinsiatif membangun Mushola ditanahnya sendiri (tentu saja atas pemberian orang tuanya waktu Abdul Ghoni kecil ikut Pak Mandor mengukur tanah bagian, pas ukuran tanahnya tidak sama dengan tanah lainnya, maka Kiyai Anwar nego dengan Pak Mandor untuk membelinya dan diberikan ke Abdul Ghoni kecil), tanah yang dibangun ini seluas 5 bata (sekitar 70 m persegi, namun adik beliau Nyai Mu'minah juga ikut andil menambahi tanah untuk langgar seluas 5 bata juga, sehingga total tanah yang di sumbangankan  (disediakan untuk langgar) adalah seluas 10 bata (sekitar 140 meter persegi).

Tokoh Ilmu Hikmah dizamannya

Kiyai Abdul Ghoni merupakan seorang pengamal ilmu hikmah sehingga pada masa Kiyai Abdul Ghoni inilah Gribig muncul "pantang menabuh Gong" dan kepercayaan ini sampai sekarang masih dipercaya oleh masyarakat kalau sampai orang gribig  Hajatan atau kegiatan lainnya yang didalamnya ada gong dan dimainkan, maka ada kepercayaan akan terjadi : Orang tersebut tidak lama lagi akan meninggal atau keluar dari Gribig atau Keluarganya berantakan (Silahkan dicoba kalau Berani).

b) Kiyai Muqoyyim 

Kiyai Muqoyyim merupakan pendatang baru dari Sliyeg, Beliau adalah Santri alumni Pondok Pesantren Tremas ( Saat diasuh oleh KH. Dimyati adik Syekh Mahfudz at tarmazi ) dan Banyuwangi, sehingga kedatangan membawa perubahan dan perkembangan pendidikan agama dikampung Gribig. diceritakan pada awal kedatangannya disambut baik oleh Kiyai Anwar dan disediakan tanah sebelah langgar untuk menetap agar Kiyai Muqoyyim Mengajarkan ilmunya kepada anak anak kiyai Anwar dan warga sekitar. Namun kiyai Muqoyyim tidak mau lama lama tinggal ditahah milik orag sehingga terjadilah akad jual beli tahah dan peralihan hak tanah ke Kiyai Muqoyyim. Diantara murid Kiyai Muqoyyim yang menjadi Pengasuh Pondok adalah : 1.Kiyai Amin Halim ( Amin Trondol ) Pendiri Pondok Pesantren Muallimin Muallimat Babakan Ciwaringin. 2. Kiyai Jawahir Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gribig. 

Selain sebagai tokoh Kiyai Muqoyyim juga dikenal sebagai instruktur Pasukan Hizbullah Karesidenan Kandanghaur, beliau juga yang mengajarkan tatacara pelaksanaan sholat Syiddatul Khouf kepada pasukan Hizbullah. beliau meninggal dalam usia yang belum begitu sepuh, Kiyai Muqoyyim meninggalkan dua anak yatim yaitu Nyai Siti Jami'ah dan Nyai Siti Fathimah.

Pada zaman Kiyi Abdul Ghoni dan Kiyai Muqoyyim (Kampung Gribig masih masuk dalam wilayah Desa Anjatan) dimana areal persawahan mayoritas masih dikuasai dan dimiliki orang orang Anjatan, sehingga orang Anjatan tidak menghendaki adanya kampung, orang orang Anjatan inginnya semua jadi sawah,  dan orang Gribig menghendaki adanya kampung sehingga terjadi gesekan,  Kiyai Muqoyyim kemudian meminta bantuan Buyutnya yaitu Kiyai Umar dari Tempel Sliyeg untuk memagari kampung Gribig dengan memuteri Kampung Gribig sambil membaca Surat Yasin sebayak 41 kali. Alhamdulillah Allah Qobul Kampung Gribig aman.

C. Gribig Periode Kiyai Haji Jawahir Anwar dan Kiyai Syahad Abdul Ghoni 

Pada Periode inilah Gribig berdiri sebuah Pondok Pesantren Miftahul Huda dan Madrasah Diniyyah Miftahul Huda 

Berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Huda dan perluasan Langgar / Tajug

Setelah selesai dari mengembara mencari ilmu mulai dari Sliyeg sampai Cibeber Banten, Kiyai Jawahir Muda Pulang ke kampung halaman di Gribig kemudian menyebarkan ilmunya berpusat di Langgar Kasepuhan, semakin hari santri bertambah maka langgar Kasepuhan dibongkar dan diperluas dan dibangun lagi dengan bangunan permanen dengan memper luas ke sebelah selatan serta barat Langgar ( tanah milik Ibu Nyai Siti Jami'ah binti Kiyai Muqoyyim, sehingga pada saat pengukuran ulang dan penerbitan sertifikat luasnya bertambah menjadi 17 bata dari asal 10 bata ).  Dan untuk tempat tinggal ( kamar santri ) berada  berada di Sebrang jalan ( Sebelah barat kediaman Kiyai Jawahir). Dan Pesantren ini diberi nama Pondok Pesantren Miftahul Huda.

Berdirinya Madrasah Diniyyah Miftahul Huda 

Pada tahun 1969 Gedung Madrasah Diniyyah Miftahul Huda dibangun dengan membeli tanah milik Ki Karyat seluas 50 Bata kurang lebih 700 m2. Adapun Pendirian Madrasah Diniyyah Miftahul Huda dimulai setelah keponakan keponakan beliau pulang dari Pondok, Seperti Kiyai Masduqi ( KH. Syafi'i Alwan), Kiyai Haji  Asrori Asbukh, Kiyai Syahad, Kiyai Asmuri dan lain lainnya, yang mana awal berdirinya madrasah menggunakan kurikulum Pesantren Murni sehingga sekolah Madrasah Diniyah ini ditempuh dalam waktu 7 tahun. Pada awalnya Madrasah Diniyyah ini menginduk ke organisasi PUI, baru pada zaman Kiyai Kurdi, Madrasah beralih dibawah naungan NU. dan tokoh tokoh penting yang pernah menduduki sebagai pengendali Madrasah (dulu disebut yang dituakan, sekarang disebut Kepala) adalah : Ki Asmuri, Ki Hamim, Ki Mansur, Ki Masduki (KH. Syafi'i Alwan), Ki Kurdi, Ki Umar, Kiyai Fadili, Kiyai Abdul Musonif, Kiyai Bukhori, Kiyai Madyasin (muhammad Yasin), Kiyai Ahmad Hilmani, dan Sekaran Kiyai Madamin (Muhammad Amin).

Berdirinya Madrasah Wustho Miftahul Huda 

Madrasah Diniyah Wusto berdiri Pada Periode Madrasah Diniyah  di Kepalai Kiyai Hilmani Sekitar tahun 2002 dan sebagi Kepala Madrasah Diniyah Wustho adalah Ustadz Suryaman,. Saat Seakarang Madrasah Diniyyah Wusto dikepalai oleh Kiyai Abdul Musonif.

Berdirinya TPQ Miftahul Huda 

Untuk menyesuaikan masa waktu belajar tingkat Madrasah Diniyah Awwaliyah Sesuai Ketentuan Kementrian Agama, Bahwa Masa Belajar di Madrasah Diniyah Awwaliyah adalah 4 tahun, maka Masa belajar yang selama 7 tahun  (semenjak madrasah didirikan) dipecah menjadi 3 Jenjang yaitu 2 tahun di TPQ, 4 tahun di MDTA dan 1 tahun di Wusto. TPQ Miftahul Huda berdiri pada tahun 2021. Saat Awal Pendirian TPQ sampai tahun 2025 dikepalai oleh Abah IHUN, dan dari 2025 sampai sekarang dikepalai oleh Ustadz Ahmad Subkhi. S.Pd.

Berdirinya MTs Guppi Miftahul Huda 

MTs Guppi Miftahul Huda awalnya bertempat di Desa Kopyah,  namun oleh Kepalanya ( Ustadz Kurdi Effendi) dipindahkan ke Gribig dengan menggunakan gedung Madrasah Diniyyah, Sehingga Gedung Madrasah digunakan pagi dan sore ( Pagi MTs dan sore Madrasah Diniyyah). Baru sekitar tahun 90an MTs menempati gedung milik sendiri dari tanah wakaf Kiyai Haji Basir Lempuyang.

Tokoh Tokoh pada era Kiyai Haji Jawahir diantaranya adalah : KH. Jawahir, KH. Safi'i Alwan, KH. Asrori Asbukh, Kiyai Syahad Abdul Ghoni, Kiyai Salim, Kiyai Ahmad Fadili, Ustadz Kurdi Effendi, Wa Hamim Faridi dan lainnya. 

Pada Periode Kiyai Jawir juga pernah kejadian (sekitar tahun 2000an) Warga  kampung Gribig gesekan dengan warga Bongas (Sebenarnya yang berkonflik adalah Warga Lempuyang dengan Warga Bongas, namun karena kejadiannya di Gribig, akhirnya Warga Gribig ikut mengamankan kampungnya. Kisahnya dimulai dari arena panggung Hajatan Keluarga Bapak Sanika Ibu Surmi yang sedang hajat Menikahkan Putrinya (Jun) dengan pria warga negara Bangladesh,  disaat acara hiburan berlangsung terjadi keributan antara pemuda Lempuyang dan Pemuda Bongas, mengingat posisi perkelahian di Gribig akhirnya pemuda dan warga Gribig ikut terlibat demi mengamankan kampungnya, pada cerita yang berkembang, muncullah orang berjubah putih dan kelaras berapi yang menghalau orang Bongas untuk mundur agar tidak merusak kampung Gribig, dari pihak Bongas orang orang sepuhnya juga menasehati pemudanya agar jangan menyerang dan bermusuhan dengan warga Gribig karna warga Gribig masih punya orang tua ( orang keramat / orang sakti ), Alhamdulillah konflik selesai tanpa berkepanjangan. Gribig aman lagi...

4. Gribig Periode Kiyai Ahmad Hilmani, S.Pd dan Kiyai Mohammad Yasin, S.Pd.I, MM

Pada Periode ini, perkembangan kampung Gribig sangat pesat, baik dalam dunia pendidikan ( dengan banyaknya warga Gribig yang sudah menyelesaikan pendidikan dari S1 Sampai S2) maupun ekonomi masyarakatnya.

Dalam dunia pendidikan Madrasah Diniyah Miftahul Huda misalnya, sekarang sudah dibagi menjadi tiga jenjang; yaitu Jenjang TPQ ( 2 tahun), Jenjang Madrasah Diniyyah Ula ( 4 tahun ) dan Jenjang Madrasah Diniyyah Wustho (1 tahun). MTs Ma'arif Miftahul Huda ( dulu, MTs GUPPI Miftahul Huda), dan TK Miftahul Huda ( semuanya dibawah naungan Yayasan Miftahul Huda ), selain itu ada juga RA Muslimat NU Darussalam, SMP NU Darussalam serta SMK NU Darussalam yang berada dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darussalam.

Pondok Pesantren Miftahul Huda 

Pada saat ini Pondok Pesantren Miftahul Huda yang didirikan oleh KH. Jawahir Anwar dalam keadaan vakum

Pondok Pesantren Darussalam 

Pondok Pesantren Darussalam ini didirikan oleh Kiyai Mohammad Yasin ( Kiyai Madyasin), melalui perjalanan panjang dari kepulangan beliau mondok di Pondok Pesantren Tremas Pacitan, 

Pondok Pesantren Darussalam didirikan pada tahun 1999  dan diresmikan pada tahun 2002. Pondok ini mengalami kemajuan yang pesat, dibawah asuhan Muassis Kiyai Madyasin, S.Pd.I, MM dengan dibantu Adik-adiknya dan para Alumninya. Dibawah naungan Yayasan Darussalam Pondok Pesantren ini mempunyai unit Pendidikan Formal yaitu: RA Muslimat NU Darussalam, SMP NU Darussalam dan SMK NU Darussalam 

Pondok Pesantren JAMIATUL HIKAM 

Pondok Pesantren JAMIATUL HIKAM saat ini diasuh oleh Abah IHUN dengan dibantu Kiyai Ahmad Subhi, S.Pd 

Posting Komentar untuk "Sejarah Kampung Gribig"